ENGLISHEN
Home Alam Lingkungan BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem Berlanjut di Sumatra Barat Pasca Banjir Padang

BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem Berlanjut di Sumatra Barat Pasca Banjir Padang

BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem di Sumatera Barat pasca banjir Padang. Hujan sangat lebat pada 3 Agustus 2026 menjadi rekor tertinggi 16 tahun. Masyarakat diimbau waspada.

BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem Berlanjut di Sumatra Barat Pasca Banjir Padang
Share

Findy Alfiansyah Penulis

HARIANEXPRESS, SUMATERA – BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi di Sumatera Barat dalam beberapa hari ke depan setelah hujan lebat memicu banjir di sejumlah daerah, Selasa (4/8/2026).

Peneliti Iklim BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Barat di Sicincin, Rizky Armei Saputra, mengungkapkan bahwa kondisi atmosfer pemicu cuaca ekstrem masih bertahan. Ia memperingatkan bahwa potensi hujan lebat masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Hujan yang mengguyur Kota Padang pada Senin (3/8) lalu dikategorikan ekstrem oleh BMKG. Curah hujan di Lubuk Minturun mencapai 286 milimeter dalam satu hari, jumlah ini setara dengan akumulasi curah hujan yang umumnya terjadi selama satu bulan penuh.

BMKG menetapkan kategori hujan ekstrem apabila curah hujan harian melebihi 150 milimeter. Selain Lubuk Minturun, stasiun pengamatan lain juga mencatat curah hujan sangat tinggi, seperti Nanggalo 248 milimeter, AWS Bungus 255 milimeter, dan Stasiun Universitas Andalas 164 milimeter.

Rizky Armei Saputra menambahkan bahwa nilai curah hujan yang tercatat pada 4 Agustus 2026 di Lubuk Minturun menjadi nilai tertinggi dalam kurun waktu 16 tahun terakhir di lokasi tersebut. Ini menunjukkan intensitas kejadian yang luar biasa.

“Potensi cuaca ekstrem masih ada. Pemicu utamanya adalah sirkulasi siklonik yang masih aktif di sekitar wilayah Indonesia bagian barat sehingga mendukung pembentukan awan hujan,” Ujar Rizky Armei Saputra.

Lebih lanjut, Rizky menjelaskan bahwa cuaca ekstrem kali ini dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor atmosfer yang terjadi bersamaan. Faktor-faktor tersebut meliputi pertemuan massa udara (konvergensi), keberadaan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia, aktifnya gelombang Rossby ekuatorial, suhu muka laut yang lebih hangat dari kondisi normal, serta aktifnya gelombang Kelvin.

Kombinasi kondisi ini saling memperkuat proses pembentukan awan konvektif, sehingga hujan yang turun menjadi sangat lebat dan berlangsung dalam durasi cukup panjang. Fenomena ini menyebabkan dampak signifikan pada wilayah yang terdampak.

BMKG mengimbau masyarakat di Sumatra Barat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, tanah longsor, genangan, pohon tumbang, dan angin kencang. Terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana atau di sekitar bantaran sungai.

Rizky juga mengingatkan agar masyarakat aktif memantau informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG. Langkah ini penting sebagai antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa hari mendatang.

Share
Related Articles
Ribuan Titik Panas di Sumsel, OKI Terbanyak Akibat Kekeringan
BencanaBerita SumateraCuaca ExtreamKekeringanKorupsi

Ribuan Titik Panas di Sumsel, OKI Terbanyak Akibat Kekeringan

Sumatera Selatan mencatat ribuan titik panas, dengan Ogan Komering Ilir sebagai wilayah...

Prabowo Tambah 100 Motor Trail untuk Atasi Karhutla Sumsel
Berita SumateraMotor TrailNusantaraOtomotifSorotan

Prabowo Tambah 100 Motor Trail untuk Atasi Karhutla Sumsel

Presiden Prabowo Subianto menyetujui penambahan 100 unit motor trail untuk penanganan karhutla...

Polda Sumsel Tahan 17 Tersangka Kasus Karhutla
Berita SumateraDinas KehutananHukumKebakaranSorotan

Polda Sumsel Tahan 17 Tersangka Kasus Karhutla

Polda Sumsel menahan 17 tersangka dari 15 laporan polisi terkait kasus kebakaran...


DMCA.com Protection Status

Kanal

© 2019 - 2026 | PT. Express Persada Linuhung. All Right Reserved