Findy Alfiansyah Penulis
Fokus penguatan institusi meliputi seluruh proses, mulai dari penerimaan mahasiswa baru hingga kelulusan. Rektor juga menegaskan pentingnya tata kelola sumber daya manusia agar dosen memiliki produktivitas Tridharma Perguruan Tinggi yang tercatat, terukur, dan terlaporkan sesuai standar akreditasi.
“Beberapa prodi di USU sudah mendapatkan akreditasi internasional. Untuk mendukung hal tersebut, prioritas pertama dalam rencana kerja tahunan dan RKA anggaran kami adalah penguatan tata kelola kelembagaan secara efisien,” Ujar Rektor USU, Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si.
Prodi Sp-1 Gizi Klinik dinilai sangat strategis dan menjadi prioritas Fakultas Kedokteran USU. Hal ini sejalan dengan program pemerintah dalam penanganan masalah gizi dan stunting.
Selain itu, program studi ini mendukung keberlanjutan kerja sama internasional seperti Erasmus serta penugasan strategis bersama BKKBN dan Pemerintah Daerah.
Ketua Tim Asesor sekaligus Ketua Kolegium Gizi Klinik Indonesia, Prof. Dr. dr. Agus Salim Bukhari, M.Clin.Med., Ph.D., Sp.GK(K), menjelaskan bahwa visitasi asesmen lapangan ini bertujuan untuk verifikasi data secara langsung.
“Kami telah melakukan asesmen kecukupan dan menelaah Laporan Evaluasi Diri. Visitasi ini bertujuan untuk verifikasi lapangan melalui triangulasi data, wawancara, peninjauan sarana dan prasarana, serta diskusi bersama tim task force,” Ujar Prof. Dr. dr. Agus Salim Bukhari, M.Clin.Med., Ph.D., Sp.GK(K).
Ia juga menambahkan bahwa transparansi, diskusi terbuka, dan kerja sama yang baik dari seluruh civitas akademika FK USU sangat diperlukan. Hal ini penting agar tim asesor dapat menghasilkan penilaian yang objektif terhadap program studi.
Prof. Agus memaparkan perkembangan program Sp-1 Gizi Klinik di Indonesia yang saat ini telah memiliki 10 senter pendidikan. Meskipun demikian, jumlah lulusan masih perlu terus dipacu untuk memenuhi target nasional yang ditetapkan.
“Proyeksi pemerintah menargetkan sekitar 1.000 Dokter Spesialis Gizi Klinik. Saat ini baru tercapai 677 dokter, dan baru ada 3 center utama yang meluluskan,” Ungkap Prof. Dr. dr. Agus Salim Bukhari, M.Clin.Med., Ph.D., Sp.GK(K).
Idealnya, satu rumah sakit memiliki minimal satu spesialis gizi klinik. Dengan total lebih dari 3.000 rumah sakit di Indonesia, kebutuhan tenaga ahli gizi klinik di lapangan masih sangat besar.
Prof. Agus berharap pencapaian kelulusan dari center-center baru seperti USU, Universitas Udayana, Universitas Andalas (UNAND), dan Universitas Syiah Kuala (USK) dapat segera merealisasikan pemenuhan tenaga ahli gizi klinik secara merata di seluruh Indonesia dalam kurun waktu 1,5 hingga 2 tahun ke depan.