Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, SUMATERA – Sumatera Selatan mencatat deflasi 0,24 persen pada Juli 2026, didorong turunnya harga BBM nonsubsidi, cabai, dan bawang merah, Selasa (4/8/2026).
Angka deflasi Sumsel yang lebih dalam dari nasional tersebut didorong oleh koreksi harga sejumlah komoditas utama.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa kelompok energi berkontribusi signifikan terhadap deflasi provinsi ini.
Beberapa jenis BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian harga yang drastis selama Juli 2026.
Harga Dexlite turun menjadi Rp20.160 dari Rp23.500 per liter, Pertamina Dex menjadi Rp21.650 dari Rp25.350 per liter, serta Pertamax Turbo menjadi Rp19.750 dari Rp21.500 per liter.
Meski demikian, harga Pertamax justru mengalami kenaikan dari Rp15.300 menjadi Rp16.650 per liter.
Selain BBM, harga emas perhiasan juga melemah sepanjang Juli dengan fluktuasi antara Rp2,60 juta hingga Rp2,67 juta, turut menyumbang deflasi bulanan.
Dari kelompok pangan, komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan tomat mencatat penurunan harga.
Kondisi ini disebabkan oleh melimpahnya pasokan dari sentra produksi di Sumsel dan daerah pemasok lain, menjaga stok di pasaran tetap stabil.
“turunnya harga berbagai komoditas menjadi faktor utama yang menekan laju inflasi di provinsi tersebut selama Juli.” Ujar Moh Wahyu Yulianto.
Namun, tidak semua komoditas menunjukkan tren penurunan harga; beras masih menjadi salah satu pemicu inflasi.
Kenaikan harga beras terjadi dari tingkat petani hingga distributor, menambah tekanan pada pengeluaran masyarakat.
Faktor lain yang mendorong kenaikan pengeluaran masyarakat adalah dimulainya tahun ajaran baru.
Biaya pendidikan, termasuk pembelian seragam, buku tulis, dan kebutuhan sekolah lainnya, terutama untuk jenjang TK dan SD, meningkat selama Juli.
Secara tahunan (year on year/yoy), Sumatera Selatan masih mencatat inflasi sebesar 2,50 persen.
Emas perhiasan, bensin, dan minyak goreng menjadi komoditas penyumbang inflasi tahunan terbesar.
BPS juga mengidentifikasi perbedaan kondisi harga di empat wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumsel.
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mencatat tingkat inflasi tertinggi, sementara Kota Lubuklinggau justru mengalami deflasi.
Stabilitas harga di Sumatera Selatan, menurut BPS, merupakan hasil dari berbagai upaya pengendalian inflasi oleh pemerintah daerah.
Langkah-langkah tersebut meliputi pelaksanaan pasar murah, penguatan distribusi, dan memastikan ketersediaan pasokan bahan pokok di pasaran.
Dengan adanya tren penurunan harga pada sejumlah komoditas strategis ini, daya beli masyarakat diharapkan tetap terjaga.
Harapan tersebut muncul meski ada peningkatan pengeluaran pada sektor pendidikan menjelang permulaan tahun ajaran baru.