Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, SUMATERA — BPBD Sumsel mencatat 101 kejadian bencana sepanjang Januari-Juli 2026, didominasi banjir dan angin kencang, Sabtu (1/8/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, Iqbal Alisyahbana, menyatakan masing-masing bencana banjir dan angin kencang tercatat sebanyak 33 kejadian. Kondisi ini menegaskan ancaman utama hidrometeorologi di Sumatera Selatan.
Selain kedua jenis tersebut, BPBD juga mendata 17 kejadian tanah longsor, 12 kebakaran permukiman, dan empat banjir bandang. Dua kejadian angin puting beliung turut melengkapi daftar bencana sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini.
“Dominasi bencana hidrometeorologi menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi cuaca ekstrem,” Ujar Iqbal Alisyahbana.
Kabupaten Ogan Ilir menjadi wilayah dengan jumlah bencana terbanyak, yakni 19 kejadian. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten OKU Selatan dengan 12 kejadian.
Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Muara Enim masing-masing mencatat 10 kejadian. Sementara itu, Kota Prabumulih mengalami sembilan kejadian bencana.
Beberapa daerah lain turut terdampak, termasuk Kabupaten OKU dengan tujuh kejadian dan Banyuasin enam kejadian. PALI mencatat lima kejadian, sedangkan Musi Rawas dan Kota Pagar Alam masing-masing empat kejadian.
Kota Palembang, Lahat, dan Empat Lawang masing-masing mengalami tiga kejadian bencana. Total daerah terdampak mencakup sebagian besar wilayah provinsi.
Dampak dari serangkaian bencana ini tergolong besar. BPBD mencatat 43.770 rumah terendam banjir di berbagai lokasi.
Selain itu, 125 rumah mengalami kerusakan berat, 66 rumah rusak sedang, dan 39 rumah rusak ringan. Sektor pertanian juga tidak luput dari kerusakan.
Sekitar 4.910 hektare lahan sawah dan 1.395 hektare kebun dilaporkan mengalami kerusakan. Secara sosial, 43.747 kepala keluarga terdampak langsung kejadian ini.
Sebanyak 607 kepala keluarga harus mengungsi akibat bencana. BPBD juga mengonfirmasi adanya korban jiwa, meskipun jumlahnya tidak dirinci dalam laporan.
Memasuki puncak musim kemarau, BPBD memperkirakan potensi bencana mulai bergeser. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini menjadi perhatian utama.
Pemerintah daerah diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah dengan kawasan lahan gambut. BPBD Sumsel terus memperkuat koordinasi serta edukasi masyarakat.