Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, SUMATERA – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong investasi hilirisasi pertanian dan penguatan ekonomi desa untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, Kamis (28/8/2026).
Dorongan percepatan hilirisasi dan pembangunan ekonomi berbasis desa ini merupakan fokus utama Pemerintah Provinsi Lampung. Gubernur secara aktif mengajak pelaku usaha untuk menanamkan modal pada sektor hilirisasi produk pertanian di wilayahnya.
Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah serta memperkuat daya saing ekonomi Lampung. Hal ini ditegaskan Gubernur dalam keterangannya di Bandarlampung.
Sebelumnya, pada Senin, 2 Maret 2026, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal juga menerima Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Lampung. Dalam pertemuan tersebut, ia mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor untuk percepatan hilirisasi dan pembangunan berbasis desa.
Pemerintah Provinsi Lampung sedang fokus membangun ekosistem ekonomi desa melalui program strategis “Desaku Maju”. Program ini dirancang untuk menahan “capital flight” dan meningkatkan nilai tambah komoditas utama daerah.
“Lampung adalah provinsi kaya komoditas. Padi, jagung, dan singkong saja menghidupi sekitar 1,2 juta kepala keluarga atau hampir 70 persen populasi. Kalau tiga komoditas ini kita selesaikan tata kelolanya, Lampung bisa take off,” Ujar Rahmat Mirzani Djausal.
Struktur perekonomian Lampung saat ini masih didominasi oleh sektor pertanian sebesar 26,9 persen, disusul industri pengolahan 19,11 persen, dan perdagangan 13,36 persen. Provinsi Lampung berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,28 persen, melampaui rata-rata nasional.
Pertumbuhan ekonomi ini berkat fokus pemerintah dalam menjaga sektor primer, khususnya stabilitas harga padi, jagung, dan singkong. Namun, sebagian besar komoditas Lampung masih keluar dalam bentuk mentah.
Sebagai contoh, produksi jagung Lampung mencapai 1,7 juta ton per tahun, namun belum didukung sistem pengeringan (dryer) yang memadai di tingkat desa. Kondisi ini menyebabkan nilai tambah komoditas dinikmati daerah lain.
Melalui program “Desaku Maju”, Pemprov Lampung berencana membangun dryer secara masif di 500 desa sentra produksi. Selain itu, program pupuk organik cair (POC) juga disiapkan untuk 2.000 desa guna meningkatkan produktivitas lahan.
“Kalau jagung dikeringkan di desa, dibuat pakan di desa, ayam dibesarkan dan diproses di desa, lalu masuk ke dapur MBG di desa, kita bisa mengurangi biaya logistik, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus memperkuat konsumsi protein masyarakat,” Jelas Rahmat Mirzani Djausal.
Kondisi membaiknya harga komoditas pertanian juga memberikan dampak positif pada peningkatan daya beli masyarakat pedesaan. Ini terlihat dari kenaikan pembelian kendaraan bermotor hingga 21 persen dan tingkat kepatuhan masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan.
Realisasi investasi di Provinsi Lampung pada tahun 2025 menunjukkan perkembangan signifikan dengan pertumbuhan mencapai 57,25 persen. Sebagian besar investasi ini didominasi oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).


