Sunday, 30 August 2026
Hot

Rumah Sultan Langkat Diserang Warga Akibat Gaya Hidup Mewah

Istana Darussalam, kediaman Sultan Mahmud dari Kesultanan Langkat, diserang dan dijarah warga pada 1946 akibat gaya hidup mewah keluarganya yang bergelimang harta.

Article ad before first paragraph

Findy Alfiansyah Penulis

HARIANEXPRESS, SUMATERA – Istana Darussalam, kediaman Sultan Mahmud dari Kesultanan Langkat, diserang dan dijarah warga pada 1946 akibat gaya hidup mewah di Sumatra Timur, (29/8/2026).

Kemewahan keluarga Sultan Mahmud tidak terlepas dari besarnya sumber kekayaan Kesultanan Langkat. Salah satu sumber utama berasal dari penemuan minyak bumi di Telaga Said, Pangkalan Brandan, pada masa pemerintahan Sultan Musa (1840-1893).

Mengutip buku Sejarah Pertumbuhan Pemerintahan Kesultanan Langkat, Deli, dan Serdang (1986), kekayaan Langkat semakin berkembang setelah perusahaan minyak Belanda, Royal Dutch Petroleum, melakukan eksplorasi di wilayah tersebut.

Article ad in the middle of article

Royal Dutch Petroleum kemudian mengembangkan Pangkalan Brandan menjadi salah satu kawasan pengolahan minyak penting di Sumatra. Aktivitas pertambangan itu memberikan pemasukan besar bagi Kesultanan Langkat.

Tercatat, Sultan Langkat memperoleh sekitar US$3.000 per tahun dari aktivitas minyak tersebut. Selain minyak bumi, sumber kekayaan kesultanan juga berasal dari perkebunan tembakau serta hasil kayu dari kawasan hutan.

Besarnya pemasukan membuat keluarga Sultan dan kalangan bangsawan menikmati kehidupan mewah. Kondisi tersebut semakin terlihat pada masa Sultan Aziz (1897-1927), ketika sejumlah bangunan megah didirikan dan kapal tanker turut dibeli.

Kehidupan keluarga kesultanan juga mulai mengikuti gaya hidup masyarakat Belanda. Pengaruh tersebut terlihat dari perubahan cara berpakaian, kebudayaan, hingga jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Kemewahan semakin menonjol pada masa Sultan Mahmud yang memerintah Langkat pada 1927-1946. Ia disebut memiliki 13 mobil limosin dan dua kapal pesiar untuk mendukung kehidupan keluarga kesultanan.

Sejarawan Anthony Reid dalam bukunya The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra (1979) menggambarkan Sultan Mahmud sebagai salah satu sultan terkaya di Sumatra Timur.

“Sultan Mahmud dikenal sebagai sultan paling kaya di Sumatra Timur,” Tulis Reid dalam kajiannya.

Kehidupan mewah keluarga kesultanan kemudian menjadi bagian dari dinamika sosial-politik Sumatra Timur menjelang Revolusi Sosial 1946.

Peristiwa tersebut berujung pada penyerangan terhadap sejumlah keluarga bangsawan, termasuk kerusakan Istana Darussalam, sekaligus menandai berakhirnya kekuasaan tradisional sejumlah kesultanan di wilayah tersebut.

Article ad after last paragraph